Di post kali ini, aku bakal certain pengalaman
aku bergabung sama salah satu band underground terkeren di kota Medan ini.
Berawal dari kemauan buat band
beraliran PUNK-MELODIC sekitar 2 tahun lalu. Aku nyari personil, dimana pada
saat itu aku bener-bener nggak tau gimana keadaan dunia permusikkan di KOTA
Medan. Yang aku tau Cuma itu-itu aja, sekitaran lingkungan sekolah dan rumah.
Selebihnya blank. Aku udah lama main musik (drum), tapi pengalamanku festival doing
yang paling keren. Ada niat buat band indie, dan pada waktu itu aku taunya dan
sukanya indie itu Cuma genre PUNK doang.
Dulu aku bener-bener anti sama
yang namanya musik keras, yang vokalnya pake Scream, Growl, dsb. Setiap ngeliat
Band yang seperti itu, aku selalu mandang sebelah mata. Gak pernah betah
dengerin, meskipun hanya sampai habis satu lagu aja. Akhirnya pada saat masa
pencaharian personil itu, aaku inget
pernah punya temen yang demen sama genre begituan. Aku kenal dia pada
waktu kita berdua sama-sama main di acara pensi yang diadain disekolahnya di
band yang berbeda. Sehabis acara pensi dia pernah ngajakin aku buat band yang
alirannya ngarah ke indie, tapi aku ngerasa ga cocok pada waktu itu. Masih
terlalu anak-anak dan idealis aku pada saat itu.
Raka Ivanda Bagaskara nama
temenku itu. Sebut aja Bagas. Dialah orang yang kedua kali kutemui dan aku ajak
untuk bentuk Band yang aku idamkan pada saat itu. Orang pertama adalah Achmad
Dahri atau Dahri, temen sekaligus tetanggaku dan udah lama juga berteman sama
aku. Tapi aku nggak nyeritain soal Dahri disini karena dia bukan bagian dari
DWWD.
Akhirnya pada malam di hari aku
dapat ide itu, Aku dan Dahri langsung memutuskan untuk dating kerumah Bagas.
Semenjak pertama kali aku kenal dia, kita baru ketemu 2 atau 3 kali. Dan malam
itu adalah pertama kalinya aku main kerumahnya. Sesampai dirumahnya aku
sampaikan maksud kedatanganku, bentuk band. Singkat cerita dia setuju dan malam
itu langsung kita konsep genre dan LANGSUNG buat lagu pertama di suatu aplikasi
pembuat lagu di laptopnya. Kebetulan kita berdua sama-sama ngerti cara mainnya.
Sambil buat lagu, dia juga
nunjukkin beberapa foto dia lagi perform sama band-band undergroundnya. Waktu itu
dia punya 2 band, satu bergenre pop punk, satu lagi bergenre keras. Begitu aku
denger dia band keras, aku nggak gitu peduli dengan band nya yang itu. Karna
aku nggakpernah punya niat mau tau lebih tentang segala music keras. Yang aku
inget cuma namanya aja, Date When We Die.
Lari dari cerita DWWD, disekolah,
aku duduk sebangku dengan Adrian Hartanto, Salah satu pecinta music keras juga.
Waktu kita lagi sama-sama dengerin musik yang ada di handphonenya, tiba-tiba
aku denger music yang ada screamnya, tapi ada techno nya juga. Aku masih
kebingungan pada waktu itu, tumben-tumbenan aku nggak ilfil sama music keras
dan aku dengerin lagu itu sampai habis, bahkan berkali-kali. Bisa dikatakan ini
adalah suatu fenomena yang paling aneh yang pernah terjadi di hidupku.
Aku tanya sama temenku tadi, “ini
lagu apa, yan? Enak ya” dan akhirnya aku tau judul dan artisnya.Dan lagu itu
langsung kuputuskan untuk menjadi Lagu Underground pertama yang aku suka’ ‘Asking
Alexandria – A Single moment of sicerity’ , paduan drumnya keren, ada juga
vocal bernadanya, ada bagian mellownya, ada techno nya juga. Dan disitu Adrian
bilang kalau nama alirannya itu Crabcore. Selama ini yang aku tau Cuma Hrdcore,
tapi gaapalah. Asli asik lagunya.
Beberapa hari kemudian, aku
kerumah Bagas lagi untuk ngelanjutin bahas soal band yang mau kita buat. Trus
ditengah-tengah pembahasan, aku nanya soal band undergroundnya itu aliran apa.
Dan aku juga disitu tertarik sama beberapa foto mereka yang di kerumunin banyak
penonton (mereka sebut masa=rakyat) waktu manggung. Selain mirip artis-artis
yang di kerumunin fans, mereka juga bergaya aksi panggung keren. NGANGKANG
sambil mainin gitar. Aneh kedengerannya, tapi itu pose main gitar terkeren yang
pernah kulihat. Karena kekagumanku itu, akupun semakin penasaran dengan genre
band Bagas itu. Akhirnya dia jawab ‘post-hardcore’. Aku semakin bingung, ada
crabcore, ada posthardcore, apalagi bedanya. Setelah itu dia juga nunjukkin
sesuatu yang buat aku nggak kalah kagum, yaitu LOGO BAND. Tuliusan Date When We
Die dibuat sebegitu keren sama dia dan stikernya nggak kalah keren. Dulu aku
ngira bahwa udah sangat ARTISme sekali band yang make logo dan stiker.
Suatu hari, DWWD mau perform di
pembukaan acara Killing Me Inside di Convention Hall Hotel Danau Toba. Bagas
ngajakin aku untuk buat nonton Band dia itu. Sekaligus aku mau ngeliat Killing
Me Indside juga. Disitu aku langsung dikenalin sama personilnya. Kusebutin satu
per satu :
Farid : Vocalis, Badannya tinggi
besar, personil terbesar di DWWD, mukanya bukan muka-muka Undergorund-er, ga
cocok lah pokoknya muka vocalist band keras, soalnya yang aku tau personil band
keras itu mukanya sangar-sangar. Beda sama yang satu ini, bersih, polos.
Haykal : Vocalis kedua, yang satu
ini ga kalah aneh mukanya sama yang sebelumnya, Pakaian oke dan cocok buat musik
keras,, tapi tampangnya anak sekolahan banget! Kacamata, behel, yaampun. Kalo
disekolah aku yang ginian dikatain kutu buku, di Bullying mulu.
Aji : Guitaris 2, Nah kalo yang
ini aku udah kenal lama. Sama lamanya sama kenal Bagas, soalnya dia dulu satu
band sama Bagas waktu event SMP, mukanya juga nggak banyak berubah. FREAK!
PSYCOPATH face! Hahahaha
Firza : Bassist, anaknya
dieeeeemm aja. Ngomongnya dikit, mukanya juga biasa-biasa aja. Muka anak alim,
gatausih aslinya
Faisal : Synthisizer, haaa ini
dia, asli muka kutu buku sekolah melebihi haykal, freak, ngga cocok ngeband. Sama
sekali nggak pas! Tapi synth-nya keren abis! Pertama kalinya aku ngeliat synth.
Dan pada waktu itu, dia bawa bokap-nyokapnya buat nonton tuh acara band keras,
sarap.
Tata : ini sang drummer. Akhirnya
aku nemuin tampang yang pas buat mainin music ini, biarpun mukanya polos, tapi
hairstylenya ga cupu, EMO! Haha, dan lebih kerennya lagi dia bawa twin pedal
sendiri waktu itu. Nilai plus yang buat aku sedikit lebih yakin sama Bandnya
Bagas ini.
Ini pengalaman pertama aku nonton
gigs kaya gini, aku liat anak-anak yang mosing (saling nabrakin badan dengan
gembira) , aku ngeliat band yang vocalis dan gitarisnya diangkat-angkat sama ‘masa’
nya, ngeliat band yang nyampakin stiker ke masanya. Ada yang masanya rame, ada
yang enggak. Akhirnya aku ngambil kesimpulan bareng Dahri (kebetulan dia ikut
juga pada saat itu dan ini juga perdana bagi dia) , bahwa band yang masanya
paling rame itu adalah band yang udah keren dan mapan di dunia ini. Singkat
cerita sampailah di waktunya DWWD perform. Intronya keren banget!!! Merekaa gerak
serentak, suara synth si faisal keren abis kurasa waktu itu. Lagunya buat aku
sama Dahri terkagum, bukan Karena tingkat kesulitan permainannya, melainkan
asiknya mereka bawain lagunya dan nge buat masa mereka mosing dan nganggukin
kepala serentak. Aku ngerasa mereka udah bener-bener NGARTIS bgt disini, music keren,
masa rame sampe naik-naik ke panggung. Wih, ajib lah.
Akhirnya aku ngerti, bahwa
ternyata post-hardcore itu aliran scream di campur dengan clean vocal dan
techno. Dan aku bener-bener suka akan itu. Crabing itu ternyata cara mereka
bermain, bukan jenis aliran. Karena PHC (posthardcore) bermain dengan style
ngangkang kaya kepiting, maka mereka sebut Crabing. Rasa ketertarikkan ku ini ngebuat aku
mengidam-idamkan band post-hardcore. Aku,
dia bilang
Suatu hari DWWD dapet jadwal
perform dan kebetulan Tata sang Drummer nggak bias main, berhubung dia ada
urusan. Dan Bagas minta ke aku untuk gantiin posisi Tata untuk sementara alias
Additional Player pada waktu itu. Awalnya aku pesimisn karena musik PHC ini
banyak menggunakan Teknik Double Pedal di drum. Sementara seumur hidup aku
nggak pernah mainin itu. Aku nggak punya, gimana aku mau belajar. Tapi Bagas
terus support “pasti bias yo, ayoklaah” , 3 hari menjelang latihan, aku belajar
mati-matian dirumah. Meski gapunya Double Pedal, kebetulan aku punya dua pedal,
dan aku latih teknik DP pake dua beat itu. 3 hari berturut-turut.
Dan Alhamdulillah, aku bias ngikutin
lagu itu dikit-dikit. Pada saat latihan dirumah Tata sang Drummer (tempat
mereka biasa latihan), perlahan aku mulai bias ngikutin permainan dengan
sedikit bantuan dan arahan dari Tata. Akhirnya aku merasa lebih optimis. Hari H
pun tiba, aku ngerasa begitu nerves, gigs pertama ku di acara underground. Betul-betul
persiapan matang pada waktu itu. Pertama kalinya perform di kerumuni masa, di
kerumuni orang-orang yang mosing dan headbang (menganggukkan kepala) ria
seiring dengan tempo yang kami mainkan. Ada kepuasan dan rasa Artisme
tersendiri ketika kau ada di posisi itu. Aku ketagihan dengan GIGS!
Beberaopa panggung aku dgn DWWD,
entah kenapa Tata enggak bias lagi punya waktu yang pas buat main sama DWWD,
sehingga pada akhirnya aku diangkat menjadi Drummer DWWD. Mereka menghapus
predikat ADDITIONAL padaku. Agak sedikit merasa tidak enak dgn Tata, tapi
disisi lain, aku bener-bener ngerasa hebat dan bangga pada saat itu.
Dari titik inilah dimulai
kehidupan undergroundku, panggung demi panggung kujalani. Aku jadi kenal banyak
orang. Banyak juga orang yang kenal aku dan permainanku. Studio-studio keren di
Medan aku kenali saat latihan bareng DWWD. Ngerasa memiliki Fans atau penyuka.
Bnyak hal dan pengalamanku.
Pergantian personil pun banyak
terjadi, 2 personil DWWD keluar, Firza udah nggak cocok disini, Faisal mau
ngelanjutin kuliahnya di Bandung. Akhirnya kita dapet personil baru Heru
gantiin faisal dan Pras gantiin Firza.
DWWD juga ngasih aku pengalaman
RECORDING perdana di studio recording. Gaakan pernah kulupa hal ini. DWWD bukan
sekedar Band, kita juga menemukan persahabatan, temen main, sharing. DWWD itu
band aneh, band yang gakpunya jadwal latihan rutin, band yang doyaan bgt sama
Dadakan. Hahahahaha Band yang gak gentar meskipun waktu mau manggung tinggal 1
menit tapi personil masih pada on the way, masih banyak lagilah hal lucunya.
Banyak orang bilang, termasuk
orang tua ku sendiri “Apa itu main-main music kaya gitu? Jerit-jerit nggak
jelas, nggak ada untungnya, ngabisin duit aja” . Itu hal yang sama dengan yang
aku bilang sebelum tau musik keras. Tapi aku belajar bahwa Pemusik sejati itu
pemusik yang mencintai alirannya, tapi tidak menyepelehkan aliran lain. Jadi di
Gigs underground, setiap band yang ngisi acara kecuali bintang tamu, wajib
ngebayar uang Kolektif jumlahnya ditentuin panitia yang ngadain acaranya. Memang
orang bilang itu hal yang sia-sia. Tapi menurut aku enggak. Di gigs
underground, kita ngerasa puas dengan membuat org-org headbang ria, mossing,
dsb. Ada kepuasan tersendiri ngeliat itu. Kita dapet banyak temen, banyak
partner bahkan fans. Kita nggakperlu punya album untuk dikenal orang. Kalo
memang itu membuat player ngerasa rugi, lantas, kenapa masih banyak bahkan
bertambah banyak band-band yang bermain di underground? Apakah mereka semua
orang bodoh? Enggak. Ada kepuasan tersendiri. Ada saat dimana segala-galanya
tidak dinilai dari uang. MUSIK bisa menghasilkan uang, tapi musik bukan soal
uang, melainkan kepuasan hati yang memainkan music tersebut.
Januari 2013, akhirnya aku
memutuskan untuk keluar dari DWWD. Aku ingin kembali ke music awalku, music yang
sedikit lebih lembut. Tapi itu bukan berarti idealism atau sebagainya. Aku tetap
suka dengan music posthardcore, bahkan lebih banyak genre underground lain yang
mungkin aku sukai. Hanya saja aku tidak bisa menetap disitu lagi. Tapi sungguh
DWWD memberikan pengaruh besar dalam hidupku. Sangat sulit buatku, tapi aku
harus melakukannya untuk ngejar salah satu mimpi aku jadi Jazz drummer.
DWWD ngajarin aku banyak hal,
buat aku kenal Medan, banyak link, banyak kenal dan dikenal orang. Buat aku
kenal banyak genre, dan yang paling penting BUAT AKU BISA MAIN DOUBLE PEDAL. Buat
aku tau banyak studio keren. Siapa sangka waktu di studio banyak ketemu orang
diluar genre dan akhirnya bisa jadi link buat bentuk band yang kita
cita-citakan? Atau dapet link tau banyak acara penting di Medan. Bisa dibilang,
karir musikku di kota Medan berawal dari DWWD. Dan DWWD adalah band Gigs
pertama dan terakhirku. Meskipun aku udah nggak tergabung di band, tapi ikatan
persaudaraan kita masih tetap terjalin kok. Love Date When We Die.
Sorry yang ini agak panjang, read
and leave your comment.
No comments:
Post a Comment