Sunday, 13 January 2013

About Date When We Die



 Di post kali ini, aku bakal certain pengalaman aku bergabung sama salah satu band underground terkeren di kota Medan ini.
Berawal dari kemauan buat band beraliran PUNK-MELODIC sekitar 2 tahun lalu. Aku nyari personil, dimana pada saat itu aku bener-bener nggak tau gimana keadaan dunia permusikkan di KOTA Medan. Yang aku tau Cuma itu-itu aja, sekitaran lingkungan sekolah dan rumah. Selebihnya blank. Aku udah lama main musik (drum), tapi pengalamanku festival doing yang paling keren. Ada niat buat band indie, dan pada waktu itu aku taunya dan sukanya indie itu Cuma genre PUNK doang.
Dulu aku bener-bener anti sama yang namanya musik keras, yang vokalnya pake Scream, Growl, dsb. Setiap ngeliat Band yang seperti itu, aku selalu mandang sebelah mata. Gak pernah betah dengerin, meskipun hanya sampai habis satu lagu aja. Akhirnya pada saat masa pencaharian personil itu, aaku inget  pernah punya temen yang demen sama genre begituan. Aku kenal dia pada waktu kita berdua sama-sama main di acara pensi yang diadain disekolahnya di band yang berbeda. Sehabis acara pensi dia pernah ngajakin aku buat band yang alirannya ngarah ke indie, tapi aku ngerasa ga cocok pada waktu itu. Masih terlalu anak-anak dan idealis aku pada saat itu.
Raka Ivanda Bagaskara nama temenku itu. Sebut aja Bagas. Dialah orang yang kedua kali kutemui dan aku ajak untuk bentuk Band yang aku idamkan pada saat itu. Orang pertama adalah Achmad Dahri atau Dahri, temen sekaligus tetanggaku dan udah lama juga berteman sama aku. Tapi aku nggak nyeritain soal Dahri disini karena dia bukan bagian dari DWWD. 
Akhirnya pada malam di hari aku dapat ide itu, Aku dan Dahri langsung memutuskan untuk dating kerumah Bagas. Semenjak pertama kali aku kenal dia, kita baru ketemu 2 atau 3 kali. Dan malam itu adalah pertama kalinya aku main kerumahnya. Sesampai dirumahnya aku sampaikan maksud kedatanganku, bentuk band. Singkat cerita dia setuju dan malam itu langsung kita konsep genre dan LANGSUNG buat lagu pertama di suatu aplikasi pembuat lagu di laptopnya. Kebetulan kita berdua sama-sama ngerti cara mainnya.
Sambil buat lagu, dia juga nunjukkin beberapa foto dia lagi perform sama band-band undergroundnya. Waktu itu dia punya 2 band, satu bergenre pop punk, satu lagi bergenre keras. Begitu aku denger dia band keras, aku nggak gitu peduli dengan band nya yang itu. Karna aku nggakpernah punya niat mau tau lebih tentang segala music keras. Yang aku inget cuma namanya aja, Date When We Die.
Lari dari cerita DWWD, disekolah, aku duduk sebangku dengan Adrian Hartanto, Salah satu pecinta music keras juga. Waktu kita lagi sama-sama dengerin musik yang ada di handphonenya, tiba-tiba aku denger music yang ada screamnya, tapi ada techno nya juga. Aku masih kebingungan pada waktu itu, tumben-tumbenan aku nggak ilfil sama music keras dan aku dengerin lagu itu sampai habis, bahkan berkali-kali. Bisa dikatakan ini adalah suatu fenomena yang paling aneh yang pernah terjadi di hidupku.
Aku tanya sama temenku tadi, “ini lagu apa, yan? Enak ya” dan akhirnya aku tau judul dan artisnya.Dan lagu itu langsung kuputuskan untuk menjadi Lagu Underground pertama yang aku suka’ ‘Asking Alexandria – A Single moment of sicerity’ , paduan drumnya keren, ada juga vocal bernadanya, ada bagian mellownya, ada techno nya juga. Dan disitu Adrian bilang kalau nama alirannya itu Crabcore. Selama ini yang aku tau Cuma Hrdcore, tapi gaapalah. Asli asik lagunya.
Beberapa hari kemudian, aku kerumah Bagas lagi untuk ngelanjutin bahas soal band yang mau kita buat. Trus ditengah-tengah pembahasan, aku nanya soal band undergroundnya itu aliran apa. Dan aku juga disitu tertarik sama beberapa foto mereka yang di kerumunin banyak penonton (mereka sebut masa=rakyat) waktu manggung. Selain mirip artis-artis yang di kerumunin fans, mereka juga bergaya aksi panggung keren. NGANGKANG sambil mainin gitar. Aneh kedengerannya, tapi itu pose main gitar terkeren yang pernah kulihat. Karena kekagumanku itu, akupun semakin penasaran dengan genre band Bagas itu. Akhirnya dia jawab ‘post-hardcore’. Aku semakin bingung, ada crabcore, ada posthardcore, apalagi bedanya. Setelah itu dia juga nunjukkin sesuatu yang buat aku nggak kalah kagum, yaitu LOGO BAND. Tuliusan Date When We Die dibuat sebegitu keren sama dia dan stikernya nggak kalah keren. Dulu aku ngira bahwa udah sangat ARTISme sekali band yang make logo dan stiker.

Suatu hari, DWWD mau perform di pembukaan acara Killing Me Inside di Convention Hall Hotel Danau Toba. Bagas ngajakin aku untuk buat nonton Band dia itu. Sekaligus aku mau ngeliat Killing Me Indside juga. Disitu aku langsung dikenalin sama personilnya. Kusebutin satu per satu :
Farid : Vocalis, Badannya tinggi besar, personil terbesar di DWWD, mukanya bukan muka-muka Undergorund-er, ga cocok lah pokoknya muka vocalist band keras, soalnya yang aku tau personil band keras itu mukanya sangar-sangar. Beda sama yang satu ini, bersih, polos.
Haykal : Vocalis kedua, yang satu ini ga kalah aneh mukanya sama yang sebelumnya, Pakaian oke dan cocok buat musik keras,, tapi tampangnya anak sekolahan banget! Kacamata, behel, yaampun. Kalo disekolah aku yang ginian dikatain kutu buku, di Bullying mulu.
Aji : Guitaris 2, Nah kalo yang ini aku udah kenal lama. Sama lamanya sama kenal Bagas, soalnya dia dulu satu band sama Bagas waktu event SMP, mukanya juga nggak banyak berubah. FREAK! PSYCOPATH face! Hahahaha
Firza : Bassist, anaknya dieeeeemm aja. Ngomongnya dikit, mukanya juga biasa-biasa aja. Muka anak alim, gatausih aslinya
Faisal : Synthisizer, haaa ini dia, asli muka kutu buku sekolah melebihi haykal, freak, ngga cocok ngeband. Sama sekali nggak pas! Tapi synth-nya keren abis! Pertama kalinya aku ngeliat synth. Dan pada waktu itu, dia bawa bokap-nyokapnya buat nonton tuh acara band keras, sarap.
Tata : ini sang drummer. Akhirnya aku nemuin tampang yang pas buat mainin music ini, biarpun mukanya polos, tapi hairstylenya ga cupu, EMO! Haha, dan lebih kerennya lagi dia bawa twin pedal sendiri waktu itu. Nilai plus yang buat aku sedikit lebih yakin sama Bandnya Bagas ini.
Ini pengalaman pertama aku nonton gigs kaya gini, aku liat anak-anak yang mosing (saling nabrakin badan dengan gembira) , aku ngeliat band yang vocalis dan gitarisnya diangkat-angkat sama ‘masa’ nya, ngeliat band yang nyampakin stiker ke masanya. Ada yang masanya rame, ada yang enggak. Akhirnya aku ngambil kesimpulan bareng Dahri (kebetulan dia ikut juga pada saat itu dan ini juga perdana bagi dia) , bahwa band yang masanya paling rame itu adalah band yang udah keren dan mapan di dunia ini. Singkat cerita sampailah di waktunya DWWD perform. Intronya keren banget!!! Merekaa gerak serentak, suara synth si faisal keren abis kurasa waktu itu. Lagunya buat aku sama Dahri terkagum, bukan Karena tingkat kesulitan permainannya, melainkan asiknya mereka bawain lagunya dan nge buat masa mereka mosing dan nganggukin kepala serentak. Aku ngerasa mereka udah bener-bener NGARTIS bgt disini, music keren, masa rame sampe naik-naik ke panggung. Wih, ajib lah.
Akhirnya aku ngerti, bahwa ternyata post-hardcore itu aliran scream di campur dengan clean vocal dan techno. Dan aku bener-bener suka akan itu. Crabing itu ternyata cara mereka bermain, bukan jenis aliran. Karena PHC (posthardcore) bermain dengan style ngangkang kaya kepiting, maka mereka sebut Crabing.  Rasa ketertarikkan ku ini ngebuat aku mengidam-idamkan band post-hardcore.  Aku, dia bilang
Suatu hari DWWD dapet jadwal perform dan kebetulan Tata sang Drummer nggak bias main, berhubung dia ada urusan. Dan Bagas minta ke aku untuk gantiin posisi Tata untuk sementara alias Additional Player pada waktu itu. Awalnya aku pesimisn karena musik PHC ini banyak menggunakan Teknik Double Pedal di drum. Sementara seumur hidup aku nggak pernah mainin itu. Aku nggak punya, gimana aku mau belajar. Tapi Bagas terus support “pasti bias yo, ayoklaah” , 3 hari menjelang latihan, aku belajar mati-matian dirumah. Meski gapunya Double Pedal, kebetulan aku punya dua pedal, dan aku latih teknik DP pake dua beat itu. 3 hari berturut-turut.
Dan Alhamdulillah, aku bias ngikutin lagu itu dikit-dikit. Pada saat latihan dirumah Tata sang Drummer (tempat mereka biasa latihan), perlahan aku mulai bias ngikutin permainan dengan sedikit bantuan dan arahan dari Tata. Akhirnya aku merasa lebih optimis. Hari H pun tiba, aku ngerasa begitu nerves, gigs pertama ku di acara underground. Betul-betul persiapan matang pada waktu itu. Pertama kalinya perform di kerumuni masa, di kerumuni orang-orang yang mosing dan headbang (menganggukkan kepala) ria seiring dengan tempo yang kami mainkan. Ada kepuasan dan rasa Artisme tersendiri ketika kau ada di posisi itu. Aku ketagihan dengan GIGS!

Beberaopa panggung aku dgn DWWD, entah kenapa Tata enggak bias lagi punya waktu yang pas buat main sama DWWD, sehingga pada akhirnya aku diangkat menjadi Drummer DWWD. Mereka menghapus predikat ADDITIONAL padaku. Agak sedikit merasa tidak enak dgn Tata, tapi disisi lain, aku bener-bener ngerasa hebat dan bangga pada saat itu.
Dari titik inilah dimulai kehidupan undergroundku, panggung demi panggung kujalani. Aku jadi kenal banyak orang. Banyak juga orang yang kenal aku dan permainanku. Studio-studio keren di Medan aku kenali saat latihan bareng DWWD. Ngerasa memiliki Fans atau penyuka. Bnyak hal dan pengalamanku.
Pergantian personil pun banyak terjadi, 2 personil DWWD keluar, Firza udah nggak cocok disini, Faisal mau ngelanjutin kuliahnya di Bandung. Akhirnya kita dapet personil baru Heru gantiin faisal dan Pras gantiin Firza.
DWWD juga ngasih aku pengalaman RECORDING perdana di studio recording. Gaakan pernah kulupa hal ini. DWWD bukan sekedar Band, kita juga menemukan persahabatan, temen main, sharing. DWWD itu band aneh, band yang gakpunya jadwal latihan rutin, band yang doyaan bgt sama Dadakan. Hahahahaha Band yang gak gentar meskipun waktu mau manggung tinggal 1 menit tapi personil masih pada on the way, masih banyak lagilah hal lucunya.

Banyak orang bilang, termasuk orang tua ku sendiri “Apa itu main-main music kaya gitu? Jerit-jerit nggak jelas, nggak ada untungnya, ngabisin duit aja” . Itu hal yang sama dengan yang aku bilang sebelum tau musik keras. Tapi aku belajar bahwa Pemusik sejati itu pemusik yang mencintai alirannya, tapi tidak menyepelehkan aliran lain. Jadi di Gigs underground, setiap band yang ngisi acara kecuali bintang tamu, wajib ngebayar uang Kolektif jumlahnya ditentuin panitia yang ngadain acaranya. Memang orang bilang itu hal yang sia-sia. Tapi menurut aku enggak. Di gigs underground, kita ngerasa puas dengan membuat org-org headbang ria, mossing, dsb. Ada kepuasan  tersendiri  ngeliat itu. Kita dapet banyak temen, banyak partner bahkan fans. Kita nggakperlu punya album untuk dikenal orang. Kalo memang itu membuat player ngerasa rugi, lantas, kenapa masih banyak bahkan bertambah banyak band-band yang bermain di underground? Apakah mereka semua orang bodoh? Enggak. Ada kepuasan tersendiri. Ada saat dimana segala-galanya tidak dinilai dari uang. MUSIK bisa menghasilkan uang, tapi musik bukan soal uang, melainkan kepuasan hati yang memainkan music tersebut.

Januari 2013, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari DWWD. Aku ingin kembali ke music awalku, music yang sedikit lebih lembut. Tapi itu bukan berarti idealism atau sebagainya. Aku tetap suka dengan music posthardcore, bahkan lebih banyak genre underground lain yang mungkin aku sukai. Hanya saja aku tidak bisa menetap disitu lagi. Tapi sungguh DWWD memberikan pengaruh besar dalam hidupku. Sangat sulit buatku, tapi aku harus melakukannya untuk ngejar salah satu mimpi aku jadi Jazz drummer.

DWWD ngajarin aku banyak hal, buat aku kenal Medan, banyak link, banyak kenal dan dikenal orang. Buat aku kenal banyak genre, dan yang paling penting BUAT AKU BISA MAIN DOUBLE PEDAL. Buat aku tau banyak studio keren. Siapa sangka waktu di studio banyak ketemu orang diluar genre dan akhirnya bisa jadi link buat bentuk band yang kita cita-citakan? Atau dapet link tau banyak acara penting di Medan. Bisa dibilang, karir musikku di kota Medan berawal dari DWWD. Dan DWWD adalah band Gigs pertama dan terakhirku. Meskipun aku udah nggak tergabung di band, tapi ikatan persaudaraan kita masih tetap terjalin kok. Love Date When We Die.

Sorry yang ini agak panjang, read and leave your comment.

No comments:

Post a Comment